Sabtu, 06 September 2008

KUMPULAN PUISI 2

TOTALITER

Matamu mengintip dari balik kemunafikan
Jiwamu mati laksana robot tak berperikemanusiaan
Keangkuhan bersemayam di dalam hatimu, ........
Seperti seekor merak lupa diri ......
Menganggap senja tak akan berlalu ...... sombong

Permusuhan kau jadikan sahabat dan bangga dengan kejahatan
Dosa kau jadikan pahala, bermimpi membuat neraka menjadi surga

Akh ...... sahabat, aku menangis melihat ambisimu
Hitunglah setiap detak jantungmu
..... dan nafas yang kau hirup untuk kehidupan
Itu adalah rahasia Tuhan
Sadarkah dirimu, berapa banyak cakarmu melukai sesama ?
Ingatlah akan pembalasan Tuhan ........
Ketika ajal telah menjemput dan tobat sudah tertutup






Jakarta, Januari 1999
Appe Hutauruk
0818964919



SANG KORUPTOR (1)

Mendengkur sang Koruptor
Terlelap tidur di kursi kekuasaan
Padahal hari ini hari kerja

Padahal puluhan bahkan ratusan dokumen menumpuk dimejanya
Padahal para pegawai menunggu petuahnya

Keparat ....... !!! Brengsek ........!!! Sontoloyo .......!!!
Makian sang Koruptor setengah berteriak, .......
ketika jam dinding memberitahukan tanda waktu tepat pukul dua belas siang, ....
tanda waktu beristirahat

Bergegas keluar sang Koruptor
Tak ada intruksi, tak ada kebijakan
Membawa setumpuk uang, .... setumpuk kerakusan
Tersenyum bangga sebagai durjana
dan berseru dalam hati, *Menangislah hai orang bodoh, ......
menangislah hai orang melarat, sebab waktu adalak uang".






Jakarta, 6 September 2008
Appe Hutauruk
0818964919




DERITA INDONESIA


Luka bathin rakyat Indonesia
Menangis meratap di pelukan ibu pertiwi yang mengiba
Merintih sedih menahan sakit berkepanjangan tiada dua

Lama sudah Indonesia menderita
Kesejahteraan kemakmuran hanya rencana
Tiada pernah menjadi nyata

Panjang sudah langkah Indonesia
Penuh bencana, luka dan air mata
Namun tujuan tak kunjung tiba

Lelah sudah perjuangan Indonesia
Banyak pergolakan dan nyawa binasa
Namun yang mati hanya sia - sia
Kata "bangkit" ucapan belaka
Sebab sengsara semakin merajalela




Jakarta, 6 September 2008
Appe Hutauruk
0818964919




DIKOTOMI SOSIAL

"Mak, makan ... lapar.......", iba seorang anak kepada ibunya
Sang ibu membelai rambut anaknya sambil berkata,
"Sabar ya nak.... tunggu ayahmu pulang, mudah - mudahan
ayahmu membawa sedikit rejeki"

Tiba sang ayah pulang, letih lunglai seluruh tulang
Nafasnya tersendat satu dua, hilang untung susah tersisa
Wajah muram tiada tara, melihat rona nan memerah

"Ma, beli mobil baru dong", minta seorang anak kepada mamanya
Sang mama sembari menghitung tumpukan uang, menyahut:
"Kapan kamu mau beli .... pergi sana ambil uang ke kantor papamu,
kan kemarin papamu banyak dapat komisi"

Jarang pulang adat sang papa, perut buncit kumis kelimis
Hanya uang sebagai hadiah, kepada keluarga yang gila harta
Tawa terbahak senantiasa, melihat istri-anak semakin serakah.




Jakarta, 9 September 2008
Appe Hutauruk
0818964919




ILUSTRASI YANG TERBUANG I


Terdududuk lesu ibu tua nan renta
Tangan dan kakinya gemetar ........
menahan lapar yang tak terhingga

Sesekali ditatapnya wajag polos cucu tersayang,
.... yang terlelap tidur dibuai mimpi melayang
Duhai sayang nasibmu teramat malang,
...... keluh sang nenek dengan air mata berlinang

Malam semakin kelam ...............tak terterawang
Tak ada bulan tak ada bintang
Yang ada hanya "binatang jalang dari kumpulan yang terbuang"
Di pinggiran kota Jakarta yang mengerang

Banyak tangis dan jeritan..........
pun duka nestapa selalu diabaikan
Kaya dan miskin tak terbandingkan
Jurang pemisah yang tak terbayangkan



(Copy Right)
Jakarta, 16 September 2008
Appe Hutauruk
0818964919

POLITISI BUSUK


Politisi busuk berdiri tegang
Politisi busuk berteriak lantang
Mengumbar janji nan penuh kepalsuan
Memaklumatkan segala kebohongan

Politisi busuk menebar pesona
Politisi busuk melantunkan nyanyian kemunafikan
Menyapa rakyat laksana satria
Menatap rakyat laksana dewa

Akh .... kami tahu dari sorot matamu
Kami tahu dari nada bicaramu
Kami tahu dari tingkah lakumu
Siapa tuan yang ambisius

Berapa banyak tuan telah merampas uang rakyat
Berapa banyak tuan telah menghamburkan uang haram
Berapa sering tuan telah menista kebenaran
Berapa sering tuan telah memprovokasi rakyat

Kedurjanaan tuan tak terbilang tak terhitung
Tuan adalah politisi busuk yang ambisius


(Copy Right)
Jakarta, 17 Oktober 2008
Appe Hutauruk
0818964919

Tidak ada komentar: