Senin, 02 Maret 2009

NOVEL

BABAK 1

Martua duduk sendiri di sudut ruangan warung kopi berlabel Dunkin Donut yang berada di Pusat Belanja Arion Mall Rawamangun, Jakarta Timur. Sebagian masyarakat Indonesia mungkin menganggap Dunkin Donut identik dengan restaurant atau café atau terminology lainnya yang representative untuk dijadikan tempat relaksasi atau sarana pertemuan atau sekedar tempat transit untuk menghilangkan rasa penat dan dahaga. Akh…, yang jelas harus diakui bahwa eksistensi coffee shop varietas ini yang dilahirkan di Indonesia oleh lembaga hukum franchise yang termasuk kedalam kelompok Intellectual Property Right, telah populis dan familiar di kalangan masyarakat Indonesia.

Sembari duduk bersandar di sofa ia mengisap secara dalam rokoknya, sesekali asap rokok itu ditiupnya dengan panjang, hmm……….. nikmat….! Sepertinya abang yang satu ini tergolong perokok sejati. Tetapi mungkin kenikmatan rokok yang dirasakan Martua hanya fantasi. Terlihat dari sorot matanya yang hampa, menerawang entah kemana. Apakah gundah hati si abang ? Tidak….! Sedih ? Tidak ….., sebab bola matanya tidak nanar. Tetapi dari detak jantungnya dapat diperkirakan, mungkin suasana hati Martua sedang bergejolak.

“Maaf, permisi pak. Mau pesan minuman apa?” tanya seorang Pramusaji.
“Segelas cappuccino”, jawab Martua spontan. Respon yang spontanitas ini secara teoritis dimobilisasi oleh otot polos, dengan demikian berarti sudah menjadi kebiasaan Martua minum cappuccino atau paling tidak minum kopi sambil merokok. Meskipun ia tahu bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan, apalagi disertai dengan minum kopi. Satu hal yang diyakininya adalah perpaduan merokok dan minum kopi merupakan kenikmatan yang tidak bertentangan dengan hukum bahkan jauh lebih terhormat daripada korupsi.
“Panas atau dingin?”.
“Panas – lah …!”, logat batak si abang terasa nyaring.
Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 10.30 WIB, suasana di Dunkin Donut sudah ramai. Sama halnya seperti di tempat – tempat lain, disini hadir beraneka ragam karakter manusia dengan berbagai latar belakang profesi dan status sosial.


BABAK 2
Kerumunan massa di depan Istana Negara menghentikan laju sepeda motor Martua. Satuan pengamanan yang terdiri dari Polisi, Tentara (Militer) dan Polisi Pamong Praja bersiaga penuh mengantisipasi segala kemungkinan. Semua wajah terlihat tegang, garang menantang, siap menerjang dan siap menghadang. Bentrokan hanya sebatas instruksi, …. atau sebatas provokasi. Kondisi ini merupakan ekspresi dari kebebasan, ….. kebebasan yang dilahirkan oleh demokrasi, ….. dari hasil pembuahan ide – ide, …. ide freedom of speech yang berasal dari alam pikiran Roosevelt, … ide freedom doing mistake dari alam pikiran Mahatma Gandhi, … ide freedom to be free dari alam pikiran Soekarno.

Gemuruh – riuh ….., hiruk – pikuk suara teriakan para Demonstran. Mereka mengumandangkan amanat keadilan dari alam semesta, seperti dinyatakan oleh filsuf Yunani kuno Aristoteles (Aristotle) bahwa keadilan adalah hakekat dari alam semesta.
“Teman – teman, kita harus melawan setiap bentuk ketidakadilan. Penindasan adalah musuh dari keadilan. Kezaliman adalah musuh dari kebenaran. Selama penindasan dan kezaliman masih berkuasa di Republik Indonesia, kita harus dan akan terus merapatkan barisan perjuangan untuk melakukan perlawanan. Apakah kita rela hak – hak kodrati kita dianiaya dan dirampas !!??”, seru sang Orator dengan suara lantang.
“Tidaaaak ……!!”, sahut para Demonstran dengan bersemangat dan suara nyaring meskipun tanpa loudspeaker.
“Apakah kita akan membiarkan keyakinan dan hak beribadah kita diamputasi!!??”.
“Tidaaaaaaaaak!!!”, para Demonstran kembali menyambut serempak.
“Tuhan semesta alam telah mengaruniakan kepada kita hak hakiki yang tidak boleh dan tidak dapat dirampas atau dikurangi oleh manusia dan pemerintah manapun termasuk pemerintah Indonesia. Hak essensial itu adalah kebebasan untuk memeluk agama dan keyakinan serta kebebasan untuk beribadah menurut agama dan keyakinan tersebut”, sang Orator berteriak menyerukan doctrine dogmatis. Teriakan yang bersumber dari suara hati. Suatu keyakinan atas prinsip dan nilai – nilai hidup dan kehidupan yang dikonsepsikan menjadi salah satu asas demokrasi. Rasional, sama halnya ketika Presiden Amerika Serikat menyatakan pendapatnya mengenai kebebasan beragama (freedom of religion) dalam The four freedoms of Roosevelt.


BABAK 3

Lantunan nyanyian berirama melankolis menghipnotis suasana Café and Pub Dosniroha yang terletak di Jalan Pemuda, Jakarta Timur. Semua pengunjung terkesima mendengar alunan suara Trio Sahata yang mendendangkan lagu Tangianghon Ahu Inang. Kelompok penyanyi tiga bersaudara yang belum populis tetapi memiliki kwalitas suara yang setara dengan penyanyi diva internasional. Kekuatan vocal, kolaborasi tiga jenis nada suara yang diramu dengan improvisasi, menambah daya sugesti (suggestion) lagu tersebut.

Tidak seperti pengunjung yang lain, bersantai dengan ditemani waitress, Martua duduk sendiri di Bartender. Tak ada cengkrama, tak ada kemesraan. Hanya dua botol bir hitam putih pelipur gundah gulana. Pikirannya mengembara ke kampung halaman, teringat akan sanak saudara dan orang tua (damang dainang). Diantar terbang oleh lirik lagu Tangianghon Ahu Inang.
Tiba – tiba suara botol pecah mengusik semua pengunjung Café and Pub Dosniroha. Tak terkecuali Martua yang sedang bernostalgia di alam khayal. Serta – merta seluruh lampu dinyalakan pihak keamanan, terang – benderang. Semua pandangan tertuju ke arah sudut ruangan, sudut yang menjadi sumber suara botol pecah. Ternyata beberapa orang pengunjung sedang bertengkar hebat, saling mengumpat dan saling menghujat.

“Apa mau kalian !!!”, tantang pengunjung berbaju merah sembari menghunuskan botol pecah dan menghampiri beberapa orang yang duduk di sudut ruangan. Sontak kaget mereka yang dimaksudkan, lantas berdiri sigap laksana pesilat mengatur jurus dan siasat.

Tak rela merasa diremehkan, seorang diantara mereka secepat kilat mengambil sebuah botol minuman yang ada di atas meja (table). Setelah memecahkannya langsung membalas dengan menghunuskannya ke arah sang penantang, sambil berkata setengah berteriak, “Terserah lae, anda jual kami beli”. Jawaban yang gentlement namun berbahaya, sebab sang dewa maut siap menanti untuk menjemput.
Memang, dewa maut picik licik memanipulasi situasi. Ia sering memakai jubah yang becorak ego etnik, ego kultur, ego agama bahkan ego pribadi. Doctrine utamanya adalah “jangan pernah minta maaf dan jangan pernah memafkan orang lain”.
Pada saat semua pengunjung panik dan ketakutan (kecuali Martua yang tetap tenang duduk di kursi bartender Sambil meneguk segelas bir), petugas keamanan segera datang melerai kedua kelompok yang bertikai tersebut.

Kegaduhan berubah senyap, sesaat kemudian mengalun irama syahdu mengiringi lagu merdu merayu lantunan Trio Sahata, membuai hati yang gundah karena amarah. Meski kedua kelompok yang bertikai saling bersalaman, bukan berarti saling memaafkan. Gelora amarah tetap membara, dendam di hati tidak berhenti.

Meski bukan ahli nujum atau peramal, namun Martua tahu bakal yang terjadi. ....

klik di sini untuk mendowndoad

Tidak ada komentar: