Sabtu, 17 April 2010

KONSEPSI PIDANA

PEMAHAMAN TEORITIS


- Menurut ALF ROSE “Concept of Punishment” didasarka pada 2 (dua) syarat atau tujuan, yaitu:

1. Pidana ditujukan pada pengenaan penderitaan terhadap orang yang bersangkutan (punishment is aimed at inflicting suffering upon the person upon whom it is imposed);

2. Pidana itu merupakan suatu pernyataan pencelaan terhadap perbuatan si pelaku (the punishment is an expression of disapproval of the action for which it is imposed).


- Pembenaran “punishment” menurut H.L. PACKER, didasarkan pada satu atau dua tujuan sebagai berikut:

  1. Untuk mencegah terjadinya kejahatan atau perbuatan yang tidak dikehendaki atau perbuatan yang salah (the prevention of crime or undesired conduct or offending conduct);

  1. Untuk mengenakan penderitaan atau pembalasan yang layak kepada si pelanggar (the deserved infliction of suffering on evildoers / retribution for perceived wrong doing).

- Menurut MULADI, suatu perlakuan merupakan “punishment” apabila ditujukan pada:

  1. Aktivitas seseorang di masa yang akan datang untuk sesuatu yang telah dilakukannya pada masa lalu (a person’s future activity to something he has done in the past);

  1. Perlindungan terhadap orang lain daripada perbaikan terhadap diri si pelaku (the protection of other rather than the betterment of the person being dealt with).

- Menurut H.L. PACKER : "Pidana itu harus dikenakan untuk tujuan utama mencegah terjadinya pelanggaran terhadap undang – undang atau untuk mengenakan pembalasan / penderitaan yang tepat kepada para pelanggar, atau untuk tujuan kedua – duanya. (Punishment must be imposed for the dominant purpose of preventing offenses against legal rules or of exacting retribution from offenders, or both)".


- Menurut HULSMAN: “Hakekat pidana adalah menyerukan untuk tertib (tot de orde reopen); pidana pada hakekatnya mempunyai dua tujuan utama yakni untuk mempengaruhi tingkah laku (gedragsbeinvloeding) danpenyelesaian konflik (conflictoplossing).

Penyelesaian konflik dapat berupa perbaikan kerugian yang dialami atau perbaikan hubungan baik yang dirusak atau pengembalian kepercayaan antar sesamamanusia.


- BINSBERGEN berpendapat bahwa "ciri hakiki dari pidana adalah suatu pernyataan atau penunjukkan salah oleh penguasa sehubungan dengan suatu tindak pidana (een terechtwijzing door de overheid gegeven terzake van een strafbaar feit)".

Dasar pembenaran dari pernyataan tersebut menurut BINSBERGEN adalah tingkahlaku se pembuat itu “tidak dapat diterima baik untuk mempertahankan lingkungan masyarakat maupun menyelamatkan pembuat sendiri (onduldbaar is, zowel om het behoud van de gemeenschap, als om het behoud van de dader zelf).


- G.P. HOEFNAGELS tidak setuju dengan pendapat bahwa pidana merupakan suatu pencelaan (censure) atau suatu penjeraan (discouragement) atau merupakan suatu penderitaan (suffering). Ia beranggapan bahwa pidana merupakan suatu proses waktu. Secara empiris, pidana memang dapat merupakan suatu penderitaan, tetapi hal itu tidak merupakan suatu keharusan atau kebutuhan, sebab ada juga pidana tanpa penderitaan.

Tidak ada komentar: