Rabu, 05 September 2012

IUS CONSTITUTUM DAN IUS CONSTITUENDUM


IUS CONSTITUTUM DAN IUS CONSTITUENDUM

Didalam ensiklopedi umum dijelaskan, bahwa ius constitutum merupakan hukum yang berlaku dalam suatu negara pada suatu saat.

Ius Constituendum adalah hukum yang dicita – citakan oleh pergaulan hidup dan negara, tetapi belum menjadi kaidah berbentuk undang – undang atau peraturan lain (Ensiklopedi Umum:1977);

Sudiman Kartohadiprodjo pernah menyatakan bahwa (Sudiman Kartohadiprojo: 1979): “Hukum positif dengan nama asing disebut juga: ius constitutum sebagai lawan daripada ius constituendum, yakni kesemuanya kaidah hukum yang kita cita – citakan supaya memberi akibat peristiwa – peristiwa dalam sesuatu pergaulan hidup yang tertentu”;

Titik tolak pembedaan antara ius constitutum dan ius constituendum diletakkan pada faktor ruang waktu, yaitu masa kini dan masa mendatang. Dalam hal ini, hukum diartikan sebagai tata hukum yang diidentikkan dengan istilah hukum positif. Kecenderungan pengertian tersebut sangat kuat, oleh karena kalangan tertentu berpendapat bahwa “Setelah diundangkan maka ius constituendum menjadi ius constitutum (E. Utrecth: 1966);

Pembedaan antara ius constitutum dan ius constituendum, didasarkan pada perkembangan sejarah dari tata hukum tertentu sebagaimana dikatakan LEMAIRE (W.L.G. LEMAIRE:1952) maka: “Het recht ordent dus een menselijk samenleving van een bepaalde plaats en een bepaalde tijd. Het is een historisch product, dat geworden is en vervallen zal” (Terjemahan bebas: “Dengan demikian maka hukum menerbitkan pergaulan hidup manusia disuatu tempat tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Hukum merupakan hasil perkembangan sejarah, yang terbentuk dan akan hilang”);
Dengan demikian ius constitutum kini, pada masa lampau merupakan ius constituendum. Apabila ius constitutum kini mempunyai kekuatan hukum, maka sebagai ius constituendum mempunyai nilai sejarah. Proses semacam itu dapat terjadi dengan pelbagai cara, misalnya:
A.     Digantinya suatu undang – undang dengan undang – undang baru (undang – undang baru pada mulanya sebagai rancangan merupakan ius constituendum);
B.     Perubahan undang – undang yang ada, dengan jalan memasukkan unsur – unsur  baru (unsur – unsur baru pada mulanya merupakan ius constituendum);
C.    Penafsiran peraturan perundang – undangan. Penafsiran yang ada kini, mungkin tidak sama dengan penafsiran pada masa lampau (Penafsiran pada masa kini, dahulu merupakan ius constituendum);
D.    Perkembangan doktrin, atau pendapat – pendapat kalangan hukum yang terkemuka dibidang teori hukum;

Dapat dikatakan bahwa pembedaan antara ius constitutum dengan  ius constituendum   merupakan suatu abstraksi dari fakta bahwa sesungguhnya segala sesuatu merupakan suatu proses perkembangan, artinya suatu gejala yang ada sekarang akan hilang pada masa mendatang, oleh karena diganti (dilanjutkan) oleh gejala yang semula dicita – citakan. Namun demikian, tidak jarang terjadi bahwa batas – batas yang mutlak dari proses perkembangan tersebut sulit untuk ditentukan;

Tidak ada komentar: