Selasa, 27 November 2012

KISAH - KISAH BANJIR SETINGGI GUNUNG

KISAH – KISAH BANJIR SETINGGI GUNUNG

Air bah pernah dibuat Allah sebagai hukuman karena kedegilan hati manusia saat itu. Kisah tersebut dapat anda baca secara tuntas pada Kejadian 6:9 – 9:17. Namun, peristiwa tersebut menyebar ke hampir semua bangsa sehingga menjadi legenda, bahkan mitos yang mengalami berbagai penambahan dan pengurangan dari kisah aslinya. Misalnya, tokoh utamanya berubah – ubah. Dalam Perjanjian Lama tokoh utamanya adalah Nuh (Noah). Orang Sumeria menyebutnya Ziusudra. Orang Mesopotamia menyebutnya Utanapishtim. Orang India Kuno menyebutnya Manu;

KISAH DARI EROPA:

Menurut legenda Wales (wilayah Celtic di Inggris), Dwynwen dan Dwyfach selamat dari bencana besar dengan sebuah kapal ketika AIR BAH  yang mengerikan terjadi pada saat Danau Llynllion meluap. Setelah surut, mereka berdua memulai kehidupan kembali di daratan Inggris;

Dari Skandinavia ada legenda Nordic Edda yang mengisahkan Bergalmir dan isterinya yang selamat dari banjir dengan sebuah kapal besar;

Dalam legenda Lithuania,  ada cerita bahwa beberapa pasang manusia dan binatang diselamatkan dengan berlindung di puncak gunung tinggi. Ketika angin dan banjir berlangsung selama duabelas hari, duabelas malam dan mulai mencapai ketinggian gunung. Sang Pencipta melemparkan kulit kacang raksasa kepada mereka sehingga dapat berlayar bersama kulit kacang raksasa ini;

KISAH DARI ASIA:

Dari Sumeria, Dewa Enlil memberitahu kepada banyak orang bahwa dewa – dewa yang lain ingin menghancurkan umat manusia. Namun ia  berkenan untuk menyelamatkan. Sang dewa memberitahu Ziusudra agar selamat dari banjir, ia harus membuat kapal besar dan melarikan diri dari banjir itu;

Dari Mesopotamia, Utanapishtim menceritakan bahwa Dewa Ea telah menyuruhnya membuat perahu dan memberitahunya tentang ukuran dan bentuknya. Ia juga disuruh supaya membawa benih – benih makhluk hidup. Kemudian, badai besar menjungkirbalikkan segala sesuatu selama enam hari, enam malam. Pada hari ketujuh, badai reda. Utanapishtim melihat bahwa di luar kapal semua telah menjadi lumpur yang lengket dan kapalnya terdampar di gunung Nisir;

Dari India, sesorang bernama Manu diselamatkan dari banjir bersama Rishiz. Menurut legenda, ikan yang ditangkap Manu dan dilepaskan, tiba – tiba membesar dan menyuruhnya untuk membuat perahu dan mengikatkan ke tanduknya. Ikan tersebut menarik kapal, mengarungi ombak besar, dan membawanya ke utara, ke gunung Hismavat;



KISAH DARI JAWA:

Menurut Stephen Oppenheimer dari Universitas Oxford, London, lewat bukunya Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara, ketika dunia hanya berbagi cerita tentang banjir besar nabi Nuh, masyarakat di Asia Tenggara memiliki dongeng yang lebih len gkap. Mereka tidak hanya mempunyai dongeng tentang banjir tetapi juga dongeng tentang kehidupan yang kacau setelah banjir besar. Semua dongeng di Asia Tenggara yang b ertema matahari dan bulan merupakan dongeng – doneng pasca banjir karena saat banjir kondisi berkabut sehingga mereka yang selamat tidak bisa melihat matahari dan bulan selama beberapa waktu. Dengan demikian, kemunculan matahari dan bulan pertama kali setelah bencana dianggap berkat dari dewa – dewa. Lalu, dongeng – dongeng penciptaan bermunculan, termasuk kemunculan matahari dan bulan;

Salah satu dongeng Jawa tentang kemunculan bulan adalah Jaka Tarub. Ia adalah pemuda yang mengintip bidadari, yang mandi di danau, mencuri selendang Nawang Wulan (bulan) – salah satu bidadari, dan menikahinya. Menurut Oppenheimer, bidadari mandi di danau merupakan metafora kemunculan bulan yang cahanya memantul di permukaan air. Metafora ini diperkuat dengan tujuh bidadari. Jumlah tujuh merupakan rasi bintang Pleiades yang menandai musim tanam;

KALAU BEGITU, MENGAPA BISA TERJADI?

Salah satu peristiwa alkitab yang memungkinkan semua itu terjadi adalah peristiwa kegagalan pembangunan Menara Babel (Kej. 10:32, s/d  11:1-9). Sebelum pembangunan semua keturunan anak – anak Nuh, seperti Sem, Ham  dan Yafet, sudah berpencar. Ketika membangun, yang tujuannya adalah mereka dapat hidup bersama dan tidak terpisah, Allah baru mengacaukan bahasa mereka sehingga komunikasi terhambat dan pembangunan gagal. Usaha mereka tidak sesuai dengan perintahnya, “penuhilah bumi” (Kej. 1:28). Setelah itu, Dia menyerakkan mereka ke seluruh  bumi. Tentunya, mereka membawa bahasa mereka sendiri. Namun, pengalaman masa lalu mereka tetap sama sehingga kisah AIR BAH menjadi sangat variatif. Demikian argumentasinya (kursip penulis: ray);




Tidak ada komentar: