Sabtu, 27 April 2013

CESARE BECCARIA

CESARE BECCARIA

Cesare Beccaria lahir di Milan, Italia tanggal 15 Maret 1738.Tulisannya “Dei delitti e delle pene” diterbitkan pertama kali di Italia pada tahun 1764 (dibuat dalam usia 26 tahun) dan diterbitkan untuk pertama kali di Inggris pada tahun 1767 dengan judul “On Crimes and Punishment”;

Cesare Beccaria meninggal tahun 1794 dengan hanya menghasilkan satu karya besar yang walaupun demikian menurut Sue Titus Reid, merupakan “daya dorong yang kuat pada gerakan pembaharuan hukum pidana dan menjadi dasar bagi perubahan praktek – praktek hukum pidana”. Selanjutnya dikemukakan oleh Reid: “Sumbangannya yang besar ialah konsepsinya bahwa pidana harus cocok dengan kejahatan (punishment should fit the crime). Ide inilah yang merupakan thema essensiil dari aliran klasik;

Karya Beccaria sangat penting untuk masa sekarang ini. Eliott Monochese menyatakan: “tidaklah berkelebihan untuk memandang karya Beccaria sebagai yang sangat penting dalam memberikan jalan bagi pembaharuan hukum pidana untuk masa kurang lebih dua abad terakhir ini”;

Tulisan Beccaria yang sangat singkat berisi hampir  mengenai semua pembaharuan hukum pidana modern, tetapi sumbangannya yang terbesar dari karyanya itu menurut Stephen Schafer  ialah dasar – dasar / landasan yang diletakkannya untuk perubahan – perubahan yang kemudian pada perundang – undangan pidana;

Pada saat Beccaria mengenai pembaharuan hukum pidana modern, banyak filosof dan para sarjana yang mulai membicarakan kontrak sosial. Pemikir – pemikir seperti Montesquie, Voltaire dan Rousseau membuat pernyataan – pernyataan yang kuat mengenai hak – hak manusia dan hakekat masyarakat pada umumnya.

Beccaria meyakini konsep kontrak sosial dan merasa bahwa tiap individu menyerahkan kebebasan / kemerdekaan secukupnya kepada negara agar masyarakat itu dapat hidup (berlangsung terus, viable), oleh karena itu hukum seharusnya hanya ada untuk melindungi / mempertahankan keseluruhan kemerdekaan yang dikorbankan terhadap perampasan kemerdekaan yang dilakukan oleh orang lain.

Prinsip dasar yang harus menuntun (menjadi pedoman) dan menjadi kekuatan  perundang – undangan adalah bahwa “kebahagiaan yang terbesar sama – sama digunakan / dibagi oleh jumlah rakyat yang terbesar”. Filsafat yang mempengaruhi Beccaria secara kuat ialah mengenai “kebebasan kehendak”.

Filsafat yang mempengaruhi Beccaria secara kuat ialah mengenai “Kebebasan Kehendak”. Dikemukakannya bahwa perbuatan manusia bersifat purpositive (bertujuan) dan ini didasarkan pada paham hedonism, prinsip kesenangan dan kesusahan, yaitu: “Manusia memilih perbuatan – perbuatan yang akan memberikan kesenangan dan menghindari perbuatan – perbuatan yang membawa kesusahan”.

Oleh karena itu pidana harus dirancang untuk masing – masing kejahatan menurut tingkatnya yang akan menghasilkan lebih banyak kesusahan daripada kesenangan terhadap mereka yang melakukan perbuatan pidana.

Pandangan mengenai perbuatan orang secara hedonistic ini mengemukakan bahwa undang – undang harus dirumuskan secara jelas dan tidak memberikan kesempatan untuk adanya penafsiran oleh Hakim. Hanya badan pembuat undang – undang yang dapat menetapkan pidana, yang juga ditulis / dirumuskan dan tidak membuka kesempatan penafsiran oleh para Hakim.

Undang – undang harus diterapkan secara sama terhadap semua orang, oleh karena itu tidak ada pembelaan yang diizinkan untuk tindak – tindak pidana. Masalahnya di pengadilan, apakah seseorang melakukan perbuatan itu; apabila ya demikian, suatu pidana khusus yang dirumuskan oleh undang – undang untuk perbuatan itu harus dikenakan.

Negara membuat undang – undang tetapi tidak memberi kekuasaan untuk menentukan siapa yang melanggar undang – undang, hal itu harus dilakukan oleh pihak ketiga, yakni Hakim atau kelompok orang – orang sebaya dengan terdakwa. Hakim semata – mata alat dari undang – undang, yang hanya menentukan salah tidaknya seseorang, yang kemudian menetapkan pidana.  

Undang – undang menjadi kaku (rigid) dan terstruktur dan tentu saja tidak memihak / netral (impartial). Seperti halnya filsafat Beccaria (yaitu; let the punishment fit the crime) menjadi berlaku, skala keadilan tidak ditergantungkan pada prasangka – prasangka perseorangan (personal prejudices) dan tentu saja bersifat buta. Beccaria tidak yakin terhadap pidana yang berat atau kejam. Alasan utama dari penjatuhan adalah untuk menjamin kelangsungan hidup masyarakat dan untuk mencegah orang dari melakukan kejahatan.

Pencegahan akan datang, tidak dari pidana yang berat, tetapi dari pidana yang patut (appropriate), yang tepat (promp) dan pasti (inevitable). Menurut Beccaria, pidana mati tidak dapat mencegah dan hal itu merupakan keberutalan (brutality and violence). Ia juga yakin bahwa pidana mati menyia – nyiakan sumber daya manusia yang merupakan modal utama bagi negara. Ia selanjutnya mengemukakan bahwa pidana mati menggoncangkan sentimen moral pada umumnya. Kenyataannya goncangan itu diperlihatkan oleh kebencian. umum daripada pelaksanaan pidana mati dan hasilnya melemahkan moralitas umum yang seharusnya dipertahankan / diperkuat oleh hukum.

Lebih jauh Beccaria menolak pidana mati berdasarkan ajaran kontrak sosial, ia mengemukakan bahwa: “Tidak seorangpun mempunyai hak alami menyerahkan / menghentikan / mengorbankan kehidupannya sendiri, oleh karena itu, tidak seorangpun dengan perjuangannya dapat memberikan hak hidup dan mati atas dirinya pada raja / penguasa; oleh karena itu kontrak sosial tidak dapat membenarkan pidana mati”.


Tidak ada komentar: