Selasa, 09 April 2013

FILSUF PLATO



PLATO

Plato telah menulis dalam bukunya Politieia tentang bagaimanakah corak negara yang sebaiknya atau bentuk negara yang bagaimanakah sebagai negara yang ideal. Perlu diterangkan bahwa Ilmu Negara pada jaman Plato merupakan cakupan dari seluruh kehidupan yang meliputi Polis (negara kota). Karena itu Ilmu Negara diajarkan sebagai Civics / Staatsburgerlijke Opvoeding yang masih merupakan Sosial Moral dan Differensiasi ilmu pengetahuan pada waktu itu belum ada. Dalam bukunya itu, segala soal yang berhubungan dengan negara kota atau Polis dicakup sekaligus dan tidak diterangkan  apa yang dimaksud dengan negara itu dan ia hanya menggambarkan negara – negara dalam bentuk ideal. Dalam uraian selanjutnya ia menyamakan negara dengan manusia yang mempunyai tiga kemapuan jiwa, yaitu:
1.     Kehendak;
2.     Akal Pikiran;
3.     Perasaan.

Sesuai dengan tiga kemampuan jiwa yang ada pada manusia tersebut, maka di dalam negara juga terdapat tiga golongan masyarakat yang mempunyai kemampuannya masing – masing. Golongan Pertama disebut golongan yang memerintah, yang merupakan otaknya di dalam negara dengan mempergunakan akal pikirannya. Orang – orang yang mampu memerintah adalah orang yang mempunyai kemampuan, dalam hal ini seorang raja yang berfilsafat tinggi. Golongan Kedua   adalah golongan ksatria / prajurit dan bertugas menjaga keamanan negara jika dkiserang dari ,luar atau kalau keadaan didalam negara mengalami kekacauan. Mereka hidup dalam asrama – asrama dan menunggu perintah dari negara untuk tugas tersebut diatas. Golongan ini dapat disamakan dengan kemauan dari hasrat manusia. Golongan Ketiga adalah golongan rakyat biasa yang disamakan dengan perasaan manusia. Golongan ini termasuk golongan petani dan pedagang, yang menghasilkan makanan untuk seluruh penduduk. Pada saat itu orang menganggap bahwa golongan ini termasuk golongan yang terendah dalam masyarakat.

Jelaslah bahwa paham dari Plato hanya suatu angan – angan saja dan ia insaf bahwa negara semacam itu tidak mungkin terjadi di dalam kenyataan, karena sifat manusia itu sendiri tidak sempurna. Selanjutnya ia menciptakan suatu bentuk negara yang maksimal dapat dicapai yaitu disebut Negara Hukum. Dalam negara hukum semua orang tunduk kepada hukum termasuk juga penguasa atau raja yang kadang – kadang dapat juga bertindak sewenang – wenang.

Tidak ada komentar: