Senin, 29 April 2013

JEREMY BENTHAM



JEREMY BENTHAM (1748 – 1832)

Jeremy Bentham seorang filsuf Inggris yang terlatih (dalam hukum) tetapi tidak pernah praktek hukum. Ia diklasifikasikan sebagai penganut utilitarian hedonist. Diantara ide – idenya yang hebat ialah anjurannya bahwa “Kebaikan yang terbesar harus untuk jumlah rakyat yang terbesar (the greatest good must go to the greatest number)”. Dan salah satu teorinya yang sangat penting ialah mengenai “Felicific Calculus”, yaitu: “Bahwa manusia merupakan ciptaan / makhluk yang rasional yang akan memilih secara sadar kesenangan dan menghindari kesusahan. Oleh karena itu suatu pidana harus ditetapkan pada tiap kejahatan sedemikian rupa sehingga kesusahan akan lebih berat daripada kesenangan yang dkitimbulkan oleh kejahatan”.   

Jelaslah bahwa hal tersebut diatas sesuai dengan ide filsafat Beccaria mengenai “let the punishment fit the crime”.

Jeremy Bentham adalah seorang pemikir dibalik kursi (an armchair thinker) yang selalu melihat kejahatan secara abstrak. Sesungguhnya, ia sama sekali gagal “melihat penjahat sebagai manusia, sebagai suatu hal yang hidup, kompleks, kepribadian yang beraneka ragam”.

Seperti halnya Beccaria, Jeremy Bentham melawan status quo dan berjuang dengan sengit untuk pembaharuan hukum pidana. Ia melihat suatu prinsip etika baru mengenai kontrol sosial, yaitu “suatu metode pengecekan perbuatan manusia menurut prinsip etika yang baru”. Prinsip itu ia sebut UTILITARIANISM: “Suatu perbuatan tidaklah dinilai oleh hal – hal yang mutlak (keadilan, kebenaran:kursip penulis) yang irrasional, tetapi oleh suatu sistem yang diuji ........ yaitu the greatest happiness for the greatest number atau secara singkat  disebut kebahgiaan yang terbesar”.

Sangat disayangkan,  Jeremy Bentham tidak menjelaskan dasar teori dari prinsip UTILITARIANISM. Juga ia tidak menjelaskan bagaimana prinsip itu dapat diukur secara obyektif dan secara empiris.

Seperti halnya Beccaria, Jeremy Bentham juga yakin pada doktrin “kebebasan kehendak”, walaupun ia mengisyaratkan kearah teori mengenai perbuatan yang terpola (the theory of learned behaviour) sebagai penjelasan mengenai tindak kriminal.

Jeremy Bentham mengemukakan bahwa tujuan – tujuan dari pidana ialah:
1.  Mencegah semua pelanggaran (to prevent all offenses);
2.  Mencegah pelanggaran yang paling jahat (to prevent the worst offenses);
3.  Menekan kejahatan (to keep down mischief);
4.  Menekan kerugian / biaya sekecil – kecilnya (to act the least expense);

Jeremy Bentham  memaafkan pidana yang berat karena pengaruhnya yang bersifat memperbaiki (reforming act), tetapi ia mengakui bahwa pidana berat harus diterima oleh rakyat sebelum diberlakukan atau diefektifkan. Hukum pidana jangan digunakan sebagai pembalasan terhadap si penjahat, tetapi hanya untuk tujuan mencegah kejahatan.

Ide – ide Jeremy Bentham   mengenai pidana mati sama dengan Beccaria. Pidana mati yang membawa kekejaman atau keberutalan luar biasa, tidaklah merupakan pidana yang memuaskan karena ia menciptakan “lebih banyak kesusahan daripada yang diperlukan untuk mencapai tujuan”.

Tidak ada komentar: