Rabu, 10 April 2013

PENGERTIAN DELIK



PENGERTIAN DELIK

Hukum pidana Belanda memakai istilah strafbaar feit, kadang – kadang juga delict yang berasal dari bahasa Latin delictum. Hukum pidana negara – negara Anglo – Saxon memakai istilah offense atau criminal act untuk maksud yang sama. Oleh karena KUHP Indonesia bersumber pada WvS Belanda, maka istilah aslinya pun sama yaitu strafbaar feit. Timbullah masalah dalam menterjemahkan strafbaar feit itu ke dalam bahasa Indonesia. Moeljatno dan Roeslan Saleh memakai istilah perbuatan pidana meskipun tidak untuk menterjemahkan strafbaar feit itu. Utrecht, menyalin istilah strafbaar feit menjadi peristiwa pidana. Rupanya Utrecht menerjemahkan istilah feit secara harfiah menjadi peristiwa. Sama dengan istilah yang dipakai oleh Utrecht, UUD Sementara 1950 juga memakai istilah peristiwa pidana.

Moeljatno menolak istilah peristiwa pidana karena katanya peristiwa itu adalah pengertian yang konkret yang hanya menunjuk kepada suatu kejadian yang tertentu saja, misalnya matinya orang. Hukum pidana tidak melarang orang mati, tetapi melarang adanya orang mati karena perbuatan orang lain.

Sekarang ini, semua undang – undang telah memakai istilah tindak pidana, seperti; Undang – Undang Tindak Pidana Ekonomi, Undang – Undang Tindak Pidana Suap, dan seterusnya. Istilah tindak pidana itu pun tidak disetujui Moeljatno, antara lain dikatakan bahwa ”’tindak’, sebagai kata tidak begitu dikenal, maka perundang – undangan yang memakai kata ‘tindak pidana’ baik dalam pasal – pasalnya sendiri, maupun dalam penjelasannya, hampir selalu memakai pula kata ‘perbuatan’”.   

A.Z. Abidin mengusulkan pemakaian istilah “perbuatan kriminal”, karena “perbuatan pidana” yang dipakai oleh Moeljatno itu juga kurang tepat, karena dua kata benda bersambungan yaitu “perbuatan” dan “pidana”, sedangkan tidak ada hubungan logis antara keduanya. Jadi, meskipun ia tidak sama istilahnya dengan Moeljatno, tetapi keduanya rupanya dipengaruhi oleh istilah yang dipakai di Jerman, yaitu “Tat” (perbuatan) atau “handlung” dan tidak dengan maksud untuk menterjemahkan kata “feit” dalam bahasa Belanda itu.  A.Z. Abidin menambahkan bahwa lebih baik dipakai istilah pidananya saja, yang dipakai oleh para sarjana, yaitu delik (dari bahasa Latin delictum). Memang jika kita perhatikan, hampir semua penulis memakai juga istilah “delik” disamping istilah sendirinya, seperti Roeslan Saleh disamping memakai “perbuatan pidana” juga memakai istilah “delik”, begitu pula Oemar Seno Adji, disamping memakai istilah “tindak pidana” juga memakai istilah “delik”.

Di negeri Belanda dipakai istilah feit dengan alasan bahwa istilah itu tidak meliputi hanya perbuatan (handelen), tetapi juga pengabaian (nalaten). Pemakaian istilah feit pun disana dikritik oleh Van der Hoeven, karena katanya yang dapat dipidana ialah pembuat, bukan feit itu. Senada dengan itu, Van Hamel mengusulkan istilah strafwaardig feit (strafwaardig artinya patut dipidana). Oleh karena itu, Hazewinkel – Suringa mengatakan istilah “delict”  kurang dipersengketakan, hanya karena istilah “strafbaar feit” telah biasa dipakai.

Moeljatno mengatakan bahwa perbuatan pidana itu dapat disamakan dengan criminal act, jadi berbeda dengan strafbaarfeit  yang meliputi pula pertanggungjawaban pidana. Katanya, criminal act itu berarti kelakuan dan akibat, yang disebut juga actus reus.


Tidak ada komentar: