Jumat, 30 Agustus 2013

PANGGILAN UNTUK BERKOMITMEN (A Call To Commitment)



PANGGILAN UNTUK BERKOMITMEN (A Call To Commitment)


Bagaimana respon Anda bila Allah menyuruh  Anda melakukan  sesuatu  yang   jauh
melampaui kemampuan Anda? Apakah Anda akan memiliki banyak alasan, memberi-Nya  beberapa pertimbangan  mengapa Ia telah memilih orang yang salah? Seperti itulah respon Musa. Saat Tuhan memberinya tugas besar untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan, Ia memanggil Musa kepada komitmen yang jauh lebih tinggi levelnya. Bila kita berharap untuk melangkah dengan taat di dalam tantangan – tantangan yang Tuhan berikan kepada kita, maka kita harus menjawab pertanyaan yang sama yang diberikan kepada Musa (How do you respon when God tells you to do spmething that seems beyond your capabilities? Are you full of excuses, giving Him reasons why He picked the wrong person? That’s exactly how Moses responded. When the Lord gave him the gigantic task of leading the Israelities to freedom, He was calling Moses to a significantly higher level of commitment. If we hope to step obediently into our God – given challenges, we must answer the same questions Moses asked);     

Siapa itu Allah? Jawaban ini penting sebab jawaban ini menentukan otoritas Dia yang menyuruh kita. Dua nama yang Tuhan pakai – “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub” (Keluaran 3:6), dan ” Aku adalah Aku” (Keluaran 3:14) – mengidentifikasi Ia sebagai sang Pencipta yang berdaulat dan tidak diciptakan, Pribadi kekal yang menepati janji – janji-Nya. Ini berarti tidak ada otoritas yang lebih tinggi, dan Ia memiliki hak penuh untuk meminta ketaatan kita (Who is God?  This answer is important because it determines the authority of the One telling us what to do. The two names the Lord used – “The God of Abraham. Isaac, and Jacob (Exodus 3:6), and “I am who I am” (Exodus 3:14) – identified Him as  the sovereign Creator and self –existent, everlasting One who keeps His promises. This means there is no higher authority, and He has every right to command our obedience);   

Siapa Aku? Ketika Musa mempertanyakan apakah ia orang yang tepat untuk tugas ini, Tuhan memberinya suatu janji: “Aku akan menyertai engkau” (Keluaran 3:12). Pria ini sanggup memenuhi tugasnya hanya karena Allah memilih untuk menjalin hubungan dengannya. Sumber kemampuan orang Kristen adalah hubungannya dengan Kristus dan hadirat Roh Kudus yang tinggal di dalamnya (Who am I? When Moses questioned whether he was the right man for the Job, the Lord gave him a promise: “Certainly, I will be with you” (Exodus 3:12). The man was able to fulfill the assignment only because God chose to enter into a relationship with him. The Christian’s source of adequacy  is his or her relationship with Christ and the presence of His indwelling Holy Spirit);    

Bila Allah memberikan tugas yang berat kepada Anda , ingatlah bahwa sebagai Pencipta Anda, Ia telah  merancangkan tugas yang khus untuk Anda penuhi. Bila Anda menolak untuk taat, Anda akan kehilangan apa yang Ia telah rancangkan bagi hidup Anda (When God gives you a tough assignment, remember that as your Creator, He has designed specific tasks for you to achieve. If you refuse to obey, you’ll miss what He has planned for your life);     

Tidak ada komentar: