Senin, 28 April 2014

METODE DAN ALIRAN ILMU NEGARA



METODE DAN ALIRAN ILMU NEGARA

Ilmu negara digolongkan sebagai ilmu murni (the pure science). Dalam dunia ilmu, teori menempati kedudukan yang penting, ia memberikan sarana kepada kita untuk bisa merangkum serta memahami masalah yang kita bicarakan secara lebih baik. Teori memberikan penjelasan atau eksplanasi dengan cara mengorganisasikan dan mensistemasikan masalah yang dibicarakan.

Teori juga bisa mengandung subyektivitas, apalagi berhadapan dengan fenomena yang cukup kompleks seperti hukum dan negara. Oleh karena itulah muncul berbagai aliran dalam ilmu hukum, juga dalam ilmu negara, sesuai dengan sudut pandang dari penaganut aliran – aliran tersebut. 

Perkembangan Ilmu Negara di Eropa Kontinental melahirkan dua aliran besar, yaitu aliran normatif – yuridis dan aliran empiris – genetis. Aliran normatif – yuridis, melihat fenomena negara dari sudut pandang hukum. Sedangkan aliran empiris – genetis melihat negara dari sudut pandang realita dalam pengalaman yang dapat diamati oleh panca indera. Karena itu kedua aliran ini dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu negara, metodenya berbeda – beda.

Penganut aliran normatif – yuridis, metodenya adalah rasionalistis, aprioristis, spekulatif, deduktif, filosofis.  Secara rinci metode yang dianut aliran normatif – yuridis dapat dikemukakan sebagai berikut:
1.  Metode deduksi, cara kerja apriori, beranjak dari pemikiran umum sampai pada kesimpulan khusus (spesifik) dengan menggunakan ketentuan – ketentuan dasar dan kaidah – kaidah atau norma  - norma umum untuk memperoleh keterangan – keterangan bagi fenomena yang beraneka ragam tentang negara. Metode deduksi digunakan oleh Plato (filsuf Yunani Kuno) dalam menyusun suatu konsepsi mengenai negara yang ideal dikemukakan dalam bukunya The Republic.

2.  Metode filosofis, dalam proses penyelidikannya meninjau serta membahas negara secara abstrak – ideal dan transcendental atau bersifat metafisika atau melampaui dunia nyata. Metode filosofis ini berpangkal pada pemikiran deduktif – spekulatif transcendental.

3.  Metode sistematis, metode ini dengan cara penyelidikannya menggunakan bahan – bahan yang sudah dihimpun oleh ilmuwan lain. Kemudian terhadap bahan – bahan itu dilakukan pelukisan (deskripsi), penguraian (analisis), dan evaluasi (penilaian) terhadap fenomena negara. Berdasarkan deskripsi, analisis, dan evaluasi tersebut dilakukan klasifikasi kedalam penggolongan secara sistematik. Metode ini digunakan Carl Schmitth dalam mengklasifikasi konstitusi menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu; konstitusi absolut, konstitusi relatif, konstitusi positif, konstitusi ideal.

4.  Metode hukum (juridische atau legalistische methode) dinamakan juga metode monismus, yaitu suatu metode yang di dalam proses penyelidikan menggunakan pendekatan yuridis atau semata – mata melihat fenomena negara dari sudut pandang hukum, sehingga faktor – faktor non – hukum dikesampingkan. Metode hukum atau monism, digunakan oleh Hans Kelsen dalam bukunya: The Pure Theory  of Law. Ia menulis: “the methodology analysis to be positive because it is concerned solely with the law as it is, it pays no attention to ideology, moral, ect (J.B. Curzon, 1979: 121). Dari kutipan Curzon itu, metode yang digunakan Hans Kelsen metode hukum positif dengan mengesampingkan fenomena non – hukum, seperti ideologi dan moral. Dengan demikian negara sebagai obyek penyelidikan, dipandang selaku badan hukum (legal person) dan Hans Kelsen memandang negara identik dengan hukum, sehingga hukum merupakan personifikasi dari negara.    

Penganut aliran empiris – genetis, menurut Djokosutono memakai metode historis, sosiologis, kausal (sebab – akibat). Dianut oleh Machiavelli, Jean Bodin, Thomas Hobbes, Montesquieu, Herman Heller. Secara rinci, beberapa penganut aliran empiris – genetis, memakai metode:
1.     Metode Historis – Perbandingan, suatu metode gabungan, secara historis penyelidikan dilakukan dengan analisis terhadap kenyataan – kenyataan sejarah, yaitu dicermati pertumbuhan dan perkembangan fenomena negara, sebab akibatnya sebagaimana terwujud dalam sejarah. Kemudian dilakukan perbandingan fenomena negara di dunia dengan memanfaatkan ilmu – ilmu lain seperti ekonomi, sosiologi politik, dan kebudayaan. Metode ini digunakan oleh Mac Iver dalam dua bukunya, Web of Government dan Modern State. Karena dalam metode historis – perbandingan, Mac Iver juga memanfaatkan ilmu – ilmu lain. Dari sisi pendekatannya, ia dapat dikatakan menggunakan metode interdisipliner.

2.     Metode Dialektika, dalam bentuknya yang klasik metode ini digunakan oleh filsuf Yunani, Socrates dengan cara tanya – jawab atau dialogis disebut juga dengan metode elenchus sebagai suatu upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan kebenaran (J.H. Rapar, 1988:47). Pada abad ke – 19 metode dialektika, dikembangkan oleh Wilhel Frederich Hegel (1770 – 1831) berpangkal pada epistemologi “idealisme absolut” (negara dipandang bangunan manusia yang merupakan penjelmaan dari absolute – moraal / moral yang absolut).  Dibalik itu, Karl Marx mengembangkan dialektika bertumpu pada “materi” atau “benda” berdasarkan filsafat “historis – materialisme” (memandang negara hasil dari perjuangan kelas, dan yang paling sempurna negara komunis). Sesudah revolusi Rusia tahun 1917, metode dialektika digunakan oleh Lenin pemimpin Komunis Uni Soviet, dalam bukunya State and Revolution.

Terlepas dari pertentangan Hegel dan Marx, cara kerja metode dialektika, mendalilkan tiga unsur:
a.    These atau tesis, merupakan satu dalil atau pendirian (stelling);
b.    Antithese (antitesis), merupakan kontra atau serangan terhadap dalil tadi. Dengan kata lain merupakan perlawanan.
c.    Synthese atau sintesis, suatu pendirian atau pendapat yang lebih baik atau lebih maju (progress). Sjahran Basah, memberikan contoh penggunaan metode dialektika, sebagai berikut:
these: negara kekuasaan;
antithese:negara hukum formal dalam arti sempit atau negara hukum formil atau negara undang – undang;
synthese:negara hukum arti luas atau negara hukum materil atau negara kesejahteraan.

3.     Metode fungsional, dalam penyelidikan meninjau fenomena negara di dunia tidak terlepas satu dengan yang lainnya, sehingga dapat dikatakan terdapat hubungan interdependensi. Metode fungsional ini digunakan oleh Herman Heller dalam melakukan penyelidikan terhadap negara. Ia berkesimpulan bahwa manusia dalam pergaulan masyarakat di dunia memerlukan negara. Oleh karena itu harus dilihat negara dalam kenyataan masyarakat. Terdapat hubungan yang timbal balik dan saling pengaruh – mempengaruhi antara negara dengan masyarakat, dan tidak dapat dilepaskan. Hal ini relevan dengan apa dikemukakan oleh Mac Iver dalam pengantar bukunya Modern State, antara lain: “The state is an instrument of social man” ... To present the modern state as a product of social evolution; to explain how it acquires specific functions and specific  means of service ...”. Jadi bagi Mac Iver negara adalah sarana sosial manusia. Negara modern hasil evolusi masyarakat; dapat dijelaskan bagaimana negara menjalankan fungsi dan pelayanan khusus kepada masyarakatnya.
  
4.     Metode Sinkretis atau Sinkritismus, digunakan oleh G. Jellinek, menyelidiki fenomena negara dari dua sudut pandang, yaitu dari aspek sosial khususnya sosiologi dan aspek yuridis. Dengan demikian metode sinkritismus, melakukan penyelidikan terhadap negara melalui cara kerja menggabungkan faktor hukum dan non – hukum.

Tidak ada komentar: