Rabu, 16 April 2014

PENGERTIAN DELIK



  PENGERTIAN DELIK

Kata delik berasal dari bahasa Latin, yaitu delictum. Dalam bahasa Jerman disebut delict, dalam bahasa Prancis disebut delit, dan dalam bahasa Belanda disebut delict. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti delik diberi batasan sebagai berikut: “Perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang – undang; tindak pidana”. Menurut Prof. Mr. van der Hoeven, rumusan tersebut tidak tepat karena yang dapat dihukum bukan perbuatannya tetapi manusianya.  

Keberatan Prof. Mr. van der Hoeven tersebut sesungguhnya kurang beralasan jika diperhatikan pasal 1 ayat (1) Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP), yang berbunyi: “Tiada suatu perbutan boleh dihukum melainkan atas kekuatan aturan pidana dalam undang – undang yang telah ada, sebelum perbutan itu dilakukan”.   

Prof. Moeljatno memakai istilah “perbuatan pidana” untuk kata “delik”. Menurut beliau, kata “tindak” lebih sempit cakupannya daripada “perbuatan”. Kata “tindak” tidak menunjukkan pada hal yang abstrak seperti perbuatan, tetapi hanya menyatakan keadaan yang konkret.  

E. Utrecht memakai istilah “peristiwa pidana”  karena yang ditinjau adalah peristiwa (feit) dari sudut hukum pidana. Adapun Mr. Tirtaamidjaja menggunakan istilah “pelanggaran pidana” untuk kata “delik”. Para pakar hukum pidana menyetujui istilah strafbaar feit untuk kata “delik”.

Dalam hal ini, tepat yang dikatakan van Hattum bahwa perbuatan dan orang yang melakukannya sama sekali tidak dapat dipisahkan.

Mengenai “delik”  dalam arti strafbaar feit, para pakar hukum pidana masing – masing memberikan definisi sebagai berikut:
1.  Vos, menyatakan: Delik adalah feit yang dinyatakan dapat dihukum berdasarkan undang – undang;
2.  Van Hamel, menyatakan: Delik adalah suatu serangan atau ancaman terhadap hak – hak orang lain;
3.  Prof. Simons, menyatakan: Delik adalah suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan oleh undang – undang telah dinyatakan sebagai suatu perbuatan yang dapat dihukum.

Dalam ilmu hukum pidana dikenal delik formil dan delik materil. Yang dimaksud dengan delik formil adalah delik yang perumusannya menitikberatkan pada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang – undang. Adapun delik materil adalah delik yang perumusannya menitikberatkan pada akibat yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang – undang, misalnya pasal 338 KUHP tentang pembunuhan.

Tidak ada komentar: