Sabtu, 04 Oktober 2014

TANGGUNG JAWAB PRODUKSI



TANGGUNG JAWAB PRODUKSI

Mengikuti laju perkembangan perekonomian baik nasional, regional dan global, masyarakat konsumen dibanjiri dengan berbagai ragam barang produksi. Sudah barang tentu para produsen memperoleh untung besar dari penjualan barang – barang dimaksud. Namun dibalik itu, para konsumen tidak mendapat perlindungan hukum dari segala kemungkinan kesengajaan, kelalaian maupun penyesatan atau kecurangan yang dilakukan produsen:
1.     Tidak ada perlindungan hukum atas bahaya yang ditimbulkan barang yang dibeli.
2.     Tidak dilindungi atas cacat barang yang dibeli.

Mungkin secara berserakan dalam berbagai peraturan tertentu ada aturan khusus mengenai perlindungan konsumen seperti mengenai tanggung jawab “malpraktek pengobatan” (medical malpractice). Namun yang demikian, adanya suatu undang – undang yang bersifat umum yang mengatur tanggung jawab produksi (Product liability).

Jika diamati ketentuan Product Liability yang terjadi di beberapa negara, aturan ini ditegakkan atas beberapa faktor, yaitu:
1.     Landasan Filosofis
-       The deep pocket liability
-       Social duty and social responsibility

Produsen yang menjual barang kepada konsumen dianggap memiliki “kantong tebal” (deep pocket) dibanding dengan pembeli/konsumen. Oleh karena itu, jika produsen menjual barang ternyata menimbulkan bahaya atau barang yang dijual cacat, maka sesuai dengan kewajiban sosial dan tanggung jawab sosial, produsen harus bertanggung jawab membayar ganti rugi kepada pembeli/pemakai.

2.     Landasan Prinsip

Setiap barang produksi yang menimbulkan keluhan (pain) dan penderitaan (suffering) kepada konsumen, produsen bertanggung jawab  untuk membayar kompensasi (ganti rugi), atas:
-     luka (for injury), meliputi:
a.    luka jasmani (physical injury).
b.    luka emosi (emotional injury).
-     kerugian terhadap milik (for property damage).
-     kerugian ekonomi (for economic lose).
-     kehilangan orang tua (for lose parental society).
-     bahaya yang tak beralasan (for unreasonable danger).
-     kelalaian desain (for negligent in the design).
-     mengganti barang yang mengecewakan (reimburse for disappointment).

3.     Faktor Tanggung jawab Produksi
(a)  Produksi tidak safe (unsafe product):
1.    Pemeriksaan (testing) yang tidak sesuai (in adequate testing).
2.    Instruksi pemakaian yang tidak tepat (improper instruction on the product use).
3.    Peringatan yang tidak memadai atas bahaya laten pada produksi (inadequate warning of latent danger in product).
4.    Gagal mengantisipasi kesalahan pemakaian yang dapat diperkirakan (failure to anticipate foreseable product measure).
5.    Gagal mengambil langkah tindakan perbaikan sesuadah ditemukan cacat produksi (failure to take corrective action after discovery product defect).

(b)  Kelalaian desain:
1.    Salah desain (design error).
2.    Pilihan bahan yang tidak sesuai (improper material selection).
3.    Kesalahan pemasangan (assembly error).

(c)  Promosi berlebihan (over promotion):
1.    Mengacu data (distortion of data).
2.    Menyesatkan tentang pemakaian barang (misrepresent  product use).

4.     Sistem tanggung jawab Produksi:
Dalam praktek peradilan di beberapa negara, penerapan tanggung jawab produksi, sistemnya dikembangkan dengan cara:

(a)   ALTERNATIVE LIABILITY:
Jika ada dua atau beberapa produsen yang memproduksi barang yang sama jenis, kegunaan dan pemakaian (terutama produksi obat – obatan dan bahan kimia):
-       Ternyata barang tersebut menimbulkan malapetaka atau kecelakaan.
-       Tetapi tidak diketahui secara pasti oleh pemakai, produksi siapa yang dibeli dan dipakainya.
-       Maka dalam kasus seperti itu: dapat digugat salah satu dari produsen untuk membayar ganti rugi.
-       Pembebanan wajib bukti:
ad.1. Korban (Penggugat) bebas dari beban wajib bukti untuk membuktikan bahwa barang yang menimbulkan bahaya adalah produksi Tergugat.
ad.2.  Tetapi Tergugat dibebani wajib bukti bahwa bukan barangnya yang dipakai Penggugat apabila ia menyangkal gugatan.


(b)   MARKET SHARE LIABILITY CONCEPT:

Hampir sama dengan alternative liability, disinipun terdapat beberapa produsen yang memproduksi barang yang sama jenis, kegunaan dan pemakaian. Lantas menimbulkan bahaya kepada seseorang. Tetapi yang bersangkutan tidak dapat melacak  dan menelusuri secara pasti, produksi siapa yang menimbulkan bahaya tadi. Maka menurut konsep ini:
1.     Korban (Penggugat) berhak menarik semua produsen yang memproduksi jenis barang tersebut.
2.     Pengadilan berwenang untuk menghukum mereka semua untuk membayar ganti kerugian, berdasarkan asas:  
-       Apportionment upon each such actor, yakni sebagai pelaku masing – masing bertanggung jawab membayar ganti rugi secara proporsional  dan adil.
-       Besarnya porsi masing – masing didasarkan pada patokan persentase relevant market yang dikuasai.
Peran aparat penegak hukum di Indonesia masih menghadapi kesulitan untuk melindungi konsumen, selama belum ada dikeluarkan hukum positif yang mengaturnya. Barangkali, sekiranya aparat penegak hukum bisa diajak membina persepsi yang sama, buat sementara – sambil menunggu lahirnya Undang – Undang Tanggung Jawab Produksi, masih dapat mendominasi penafsiran pasal 1365 KUHPerdata, sebagai unified legal frame work (landasan keseragaman hukum) untuk menangani tuntutan ganti rugi terhadap produsen yang menjual barang yang tidak safe (unsafe product), karena kelalaian desain maupun atas alasan promosi yang menyesatkan.

Tidak ada komentar: