Jumat, 26 Desember 2014

Dispensasi atau Bebas Syarat




 Dispensasi atau Bebas Syarat

W.F. Prins memberikan definisi dispensasi sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan dispensasi atau bebas syarat adalah perbuatan yang menyebabkan suatu peraturan undang – undang menjadi tidak berlaku bagi suatu hal yang istimewa”;
Tujuan dispensasi adalah agar seseorang dapat melakukan suatu perbuatan hukum dengan menyimpang dari syarat – syarat undang – undang yang berlaku. Untuk pemberian dispensasi ini juga harus dipenuhi syarat – syarat tertentu yang diatur oleh undang – undang. Sebagai contoh, dalam Undang – Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, ditentukan dalam pasal 7 ayat (1) sebagai berikut: “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 yahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 tahun”.
Atas peraturan ini dapat diberikan dispensasi artinya dapat diberikan pengecualian kepada seorang pria atau wanita  yang belum mencapai umur yang telah ditentukan dalam pasal tersebut diatas dengan mengajukan  suatu permohonan kepada penguasa atau pengadilan setempat dimana mereka bertempat tinggal, permohonan itu dapat diajukan oleh orang tua atau walinya, tetapi biasanya dispensasi dimintakan kepada pengadilan setempat, sesuai dengan bunyi pasal 7 ayat (2) undang – undang tersebut, yang berbunyi: “Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat diminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita”.
Apabila dispensasi diberikan oleh pengadilan, ini berarti pengadilan telah membuat suatu ketetapan yang disebut voluntaire jurisdictie yaitu keputusan hakim yang tidak menyelesaikan suatu sengketa atau perselisihan, sebagai lawan dari keputusan hakim ini disebut contentieuse jurisdictie yaitu keputusan hakim yang memutuskan suatu sengketa atau perselisihan, misalnya sengketa utang piutang, sengketa jual – beli dan sebagainya. Contoh voluntaire jurisdictie misalnya: pengangkatan seorang wali (voogd) atas anak dibawah umur yang tidak dikuasai oleh orang tuanya, pengangkatan seorang pengampu atas orang yang sakit ingatan (pengampu/curator).




W.F. Prins memberikan definisi dispensasi sebagai berikut: “Yang dimaksud dengan dispensasi atau bebas syarat adalah perbuatan yang menyebabkan suatu peraturan undang – undang menjadi tidak berlaku bagi suatu hal yang istimewa”;
Tujuan dispensasi adalah agar seseorang dapat melakukan suatu perbuatan hukum dengan menyimpang dari syarat – syarat undang – undang yang berlaku. Untuk pemberian dispensasi ini juga harus dipenuhi syarat – syarat tertentu yang diatur oleh undang – undang. Sebagai contoh, dalam Undang – Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, ditentukan dalam pasal 7 ayat (1) sebagai berikut: “Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 yahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 tahun”.
Atas peraturan ini dapat diberikan dispensasi artinya dapat diberikan pengecualian kepada seorang pria atau wanita  yang belum mencapai umur yang telah ditentukan dalam pasal tersebut diatas dengan mengajukan  suatu permohonan kepada penguasa atau pengadilan setempat dimana mereka bertempat tinggal, permohonan itu dapat diajukan oleh orang tua atau walinya, tetapi biasanya dispensasi dimintakan kepada pengadilan setempat, sesuai dengan bunyi pasal 7 ayat (2) undang – undang tersebut, yang berbunyi: “Dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat diminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita”.
Apabila dispensasi diberikan oleh pengadilan, ini berarti pengadilan telah membuat suatu ketetapan yang disebut voluntaire jurisdictie yaitu keputusan hakim yang tidak menyelesaikan suatu sengketa atau perselisihan, sebagai lawan dari keputusan hakim ini disebut contentieuse jurisdictie yaitu keputusan hakim yang memutuskan suatu sengketa atau perselisihan, misalnya sengketa utang piutang, sengketa jual – beli dan sebagainya. Contoh voluntaire jurisdictie misalnya: pengangkatan seorang wali (voogd) atas anak dibawah umur yang tidak dikuasai oleh orang tuanya, pengangkatan seorang pengampu atas orang yang sakit ingatan (pengampu/curator).

Tidak ada komentar: