Senin, 29 Desember 2014

KELALAIAN KONTRIBUTOR (CONTRIBUTORY NEGLIGENCE)



KELALAIAN KONTRIBUTOR (CONTRIBUTORY NEGLIGENCE)

Doktrin kelalaian kontributor (contributory negligence) yang merupakan hukum ciptaan pengadilan (judge made law) sudah dikenal di Inggris sejak tahun 1809 dalam kasus terkenal Butterfield vs. Forrester. Doktrin contributory negligence ini mengajarkan bahwa agar seorang korban dari  perbuatan melawan hukum dapat menuntut pelakunya, korban tersebut haruslah dalam keadaan tangan yang bersih (clean hand). Maksudnya adalah bahwa pihak korban tidak boleh ikut lalai yang berarti ikut juga  mengkontribusi terhadap kerugian yang ada. Dengan demikian, berbeda dengan doktrin comparative negligence yang masih memberikan sebagian dari ganti rugi sesuai tingkat sebanding tingkat kontribusi kelalaian masing – masing, maka doktrin contibutory negligence melarang secara total pemberian ganti rugi kepada korban yang dinilai ikut juga bersalah. Prinsip pemberian ganti rugi dalam doktrin kelalaian kontributor ini adalah “all or nothing”. Pesan dibelakang teori kelalaian kontributor ini adalah seseorang (dalam hal ini korban) haruslah melindungi dirinya untuk tidak bertindak ceroboh (lalai) untuk dirinya sendiri.  

Ada 1 (satu) doktrin yang merupakan turunan dari contributory negligence. Doktrin turunan tersebut adalah apa yang disebut dengan doktrin “kesempatan terakhir” (Last Clear Chance). Doktrin last clear chance ini mengajarkan bahwa jika dalam suatu perbuatan melawan hukum pihak korban sebenarnya dapat mengambil tindakan untuk menghindari terjadinya perbuatan tersebut, dimana kesempatan untuk menghindar tersebut tidak dimiliki oleh pihak pelaku, tetapi upaya menghindar tidak dilakukan oleh pihak korban, maka ganti rugi tidak dapat dimintakan kepada pelaku perbuatan melawan hukum, meskipun pelaku perbuatan melawan hukum tersebut terbukti memang dalam keadaan lalai. Logika dari doktrin kesempatan terakhir ini adalah bahwa pihak korban juga ikut sebagai penyebab (superseding cause) terhadap perbuatan melawan hukum tersebut. Misalnya, jika seorang pejalan kaki melihat mobil yang sedang berjalan tidak beraturan karena ada kerusakan pada komponen dari mobil tersebut dimana pengemudi mobil telah lalai karena tidak memeriksa terlebih dahulu komponen tersebut, tetapi pejalan kaki tersebut meskipun sangat mudah untuk menghindar, tetapi tetap tidak mau menghindar, maka pengemudi mobil tidak dapat dimintakan pertanggungjawabannya dari perbuatan melawan hukum (tabrakan) tersebut.  Dalam hal ini kesmpatan terakhir (last clear chance) ada pada korban tabrakan, yakni kesempatan untuk mengelak dari tabrakan, yang dalam hal ini tidak dilakukannya.

Semula, ketika doktrin penyebab tunggal (single cause) diterima secara meluas, tidak sulit untuk menerapkan doktrin kesempatan terakhir ini. Menurut doktrin penyebab tunggal, maka penyebab dari perbuatan melawan hukum selalu tunggal. Jika ternyata ada beberapa penyebab (seperti kasus kelalaian kontributor), maka yang dianggap sebagai penyebab adalah penyebab yang terakhir sekali terjadi. Akan tetapi, dengan digantinya secara meluas doktrin penyebab tunggal dengan penyebab komparatif maka penerapan doktrin kelalaian komparatif menjadi semakin rumit.

Doktrin kelalaian komparatif atau doktrin kesempatan terakhir, hanya tepat diterapkan untuk kasus – kasus perbuatan melawan hukum dengan unsur kelalaian. Sama sekali tidak tepat diterapkan untuk kasus dengan unsur kesengajaan, apalagi kesengajaan dengan kesalahan berat.

Tidak ada komentar: