Selasa, 24 Februari 2015

COMPARATIVE LAW



COMPARATIVE  LAW

Jurisprudence  biasanya dibedakan dari comparative law, walaupun sukar dapat kita bayangkan bagaimana jurisprudence dapat ada tanpa comparative law. Bagaimanapun, sejarah hukum juga penting bagi jurisprudence, tetapi tak seorangpun yang mempertahankan bahwa keduanya identik.

Sebagaimana halnya dengan jurisprudence, terdapat banyak sekali perdebatan – perdebatan mengenai sifat comparative law, dalam beberapa pensifatan (definition) comparative law tak dapat dibedakan dari comparative jurisprudence.

Professor Gutteridge menegaskan bahwa comparative law menunjukkan suatu methode pelajaran dan penyelidikan dan bukan suatu cabang atau bagian tertentu dari hukum. Ia membedakan antara (a) descriptive law (comparative law yang mencitra); yang tujuan pokoknya menyediakan keterangan, dan (b) applied comparative law (comparative law yang berpraktis) yang mempunyai sasaran tertentu dalam pandangannya.

Comparative law adalah suatu ajaran yang relatif baru dan isinya masih merupakan persoalan. A priori tidak ada perbedaan antara jurisprudence dan comparative law. Kedua ilmu itu meliputi lapangan yang sama, meskipun titik beratnya berbeda. Suatu pengumpulan semua peraturan – peraturan di seluruh dunia mengenai wanita – wanita yang telah kawin mungkin merupakan naskah yang berupa descriptive comparative law, tetapi belum merupakan jurisprudence.  

Anggapan Holland  ialah bahwa  lingkungan comparative law praktis dibatasi pada penyilidikan – penyelidikan  descriptief, bahan – bahan ini kemudian diserahkan pada ahli hukum yang akan “mengajukan pandangan yang teratur dari ide – ide dan methode – methode yang dengan pancaragam telah direalisir  dalam sistem – sistem yang berlaku.


Tidak ada komentar: