Rabu, 25 Februari 2015

LINGKUNGAN JURISPRUDENCE



LINGKUNGAN JURISPRUDENCE

Kita mempunyai banyak jawaban mengenai masalah lingkungan (luasnya) jurisprudence. Dalam ilmu pengetahuan murni, Kelsen hendak memisahkan jurisprudence dari ethika dan sosiologi. Pound hendak menyelidiki hukum yang berlaku (in action) dan ahli – ahli sosiologi hendak mengembalikan pada pengetahuan masyarakat itu sendiri.

Mazhab teleologis akan menyelami dasar metafisika untuk memperoleh nilai – nilai absolut diatas mana mereka membangun ajarannya. Salahlah untuk menganggap bahwa hanya ada satu jalan yang berguna yang dapat ditempuh oleh ahli hukum.

Bagi Paton (ahli filsafat), yurisprudence yang fungsional nampaknya memberi hasil yang sangat berguna, walaupun ditegaskan bahwa hasil – hasil ini masih terletak di hari kemudian, karena sebelum ilmu pengetahuan sosial berkembang lebih lanjut, ahli hukum sangat terhalang.

Hasil – hasil tulisan pada abad ini terutama sifat destruktif. Banyak pendapat – pendapat keliru telah dikemukakan. Tak dapat diharapkan lagi untuk  peraturan – peraturan hukum yang universal untuk menciptakan skema klasifikasi yang kuat kedalam skema dimana semua sistem hukum dapat dimasukkan, atau menentukan beberapa azas – azas umum dari azas – azas mana dapat disimpulkan jawaban bagi setiap persoalan hukum.

Jurisprudence  berusaha untuk sebanyak mungkin memperoleh methode hukum, mempelajari konsepsi – konsepsi hukum, dan menyelidiki pengaruh kekuatan – kekuatan sosial terhadap perkembangan hukum dan bukan mencari azas – azas yang tak berubah – ubah. Jurisprudence pertama – tama tidak menaruh perhatian dalam menemukan uniformiteit karena kebinekaan dapat lebih penting juga.

Kalau kita menitikberatkan tidak pada konsepsi – konsepsi hukum tetapi pada methode hukum yang digunakan berbagai – bagai masyarakat untuk menciptakan tata, maka momok lama keragaman peraturan – peraturan hukum tidak lagi merupakan ketakutan bagi jurisprudence dan menjadi faktor yang sangat penting.

Semua masyarakat yang telah mencapai tingkat perkembangan tertentu menciptakan suatu sistem hukum untuk melindungi kepentingan – kepentingan tertentu. Jika masyarakat berkembang, konsepsi – konsepsi hukum akan menjadi lebih sempurna dan kepentingan – kepentingan yang dilindungi akan berubah.

Tak ada dua negara pun yang mengalami evolusi yang persis sama dan tak ada peraturan – peraturan universalpun yang dapat dirumuskan untuk menerangkan semua perubahan hukum. Tetapi meskipun masalah itu sukar, tak ada alasan mengapa kita tidak berusaha menjawabnya.

Jurisprudence adalah penyelidikan fungsionil mengenai konsepsi – konsepsi yang mengembangkan sistem hukum, dan mengenai kepentingan – kepentingan sosial yang dilindungi oleh hukum. Tetapi unsur kepentingan menimbulkan masalah nilai.

Jurisprudence yang fungsionil tak dapat dikembangkan secara memuaskan tanpa pengetahuan pelengkap mengenai tujuan – tujuan, untuk tujuan mana masyarakat ada.

Tidak ada komentar: