Jumat, 27 Maret 2015

AJARAN SEBAB AKIBAT DALAM HUKUM PIDANA



AJARAN SEBAB AKIBAT

Pembuat undang – undang tidak merumuskan sesuatu ketentuan dalam KUHP mengenai sebab – akibat. Tetapi dalam beberapa pasal tertentu dalam undang – undang hukum pidana, dirumuskan kelakukan – kelakukan  (gedragingen)  tertentu yang merupakan “sebab” (oorzaak, causa) dari suatu akibat tertentu, Misalnya dalam pasal 187 ke – 3 KUHP disebutkan: pembakaran, peledakan, pembanjiran; pada pasal 194 (2) KUHP dicantumkan: membahayakan jalan kereta api yang digunakan untuk lalulintas umum, yang merupakan sebab, dan kemudian menimbulkan akibat, berupa matinya orang dan sebagainya.  

Menjadi pemikiran, apakah pengertian sebab – akibat tersebut pasal 187 ke – 3 dan pasal 194 (2) KUHP sama pula artinya dengan sebab – akibat yang dicantumkan dalam pasal 338 dan 351 (3) KUHP, yaitu kelakuan yang berakibat yang sama, yaitu matinya orang lain. Adakah pengaruh jarak waktu antara sebab – akibat yang terdapat pada pasal 187 ke – 3 yang relatif lebih jauh, diperbandingkan dengan yang tersirat dalam pasal 338? Menjadi bahan pemikiran pula perumusan “sebab” yang berada pada pasal 187 ke – 2 dan 351 (2) KUHP akan tetapi menimbulkan akibat yang sama, dalam hal ini baru mengakibatkan lukanya/berbahayanya jiwa orang lain. Akan tetapi mengapa ancaman pidana pada pasal 351 (2) lebih ringan.

Misalnya P menjotos A dan B dengan jotosan yang sama beratnya masing – masing di bagian tubuh yang sama pula. Misalkan ternyata akibatnya berbeda, yaitu matinya A, sedangkan B hanya luka. Apabila karena matinya A, P dituntut melanggar pasal 351 (3) dan karena lukanya B maka P dituntut melanggar pasal 351 (2), apakah “akibat” tersebut yang menjadi ukuran? Bukankah penyebabnya adalah benar – benar sama ditinjau dari sudut jotosan P? Kemudian menjadi permasalahan juga, mengenai kapankah mulainya sebab itu terjadi, dan bilamanakah suatu akibat berakhir dalam arti suatu tindak pidana?

Dalam hubungannya dengan unsur – unsur lainnya dari suatu tindak pidana, maka tujuan pertama mempelajari masalah sebab – akibat ialah untuk mengetahui dan menentukan ada atau tidaknya telah terjadi suatu tindakan yang dapat dipidana. Selanjutnya untuk dapat menentukan siapa yang harus dipertanggungjawabkan atas suatu akibat tertentu yang berupa suatu tindak pidana (strafrechttelijke aanspraakelijkheid).

Tidak ada komentar: