Minggu, 29 Maret 2015

TEORI KHUSUS (INDIVIDUALISERENDE THEORIE)



TEORI KHUSUS (INDIVIDUALISERENDE THEORIE)

Disamping ajaran VON BURI terdapat berbagai ajaran lainnya, yang pada intinya dalam mencari sebab daripada suatu akibat dibatasi pada satu atau beberapa peristiwa/faktor saja yang dianggap berpadanan, paling dekat atau seimbang dengan timbulnya suatu akibat. Berlainan dengan teori VON BURI, TRAEGER mengadakan pembedaan antara rangkaian peristiwa – peristiwa/kelakukan – kelakuan dan mencari salah satu diantara peristiwa – peristiwa tersebut, yang paling dekat menimbulkan akibat yang terlarang itu oleh undang – undang. Ia tidak menganggap semua peristiwa yang mendahului sebagai syarat dari timbulnya akibat. Ia membedakan antara syarat dan alasan (voorwaarde en aanleiding). TRAEGER hanya mencari suatu peristiwa saja, yang harus dianggap sebagai sebab daripada akibat itu.   

Sebagian penganut ajaran teori khusus (individualiserende theorie), dalam membatasi peristiwa yang harus dianggap sebagai sebab, mendasarkan penelitiannya kepada fakta setelah delik terjadi (post – factum). Persitiwa yang harus dianggap sebagai sebab manakah diantara semua peristiwa – peristiwa itu yang secara khusus lebih cenderung menimbulkan akibat itu. Ajaran ini disebut juga “teori khusus” atau individualiserende theorie.

Teori Khusus atau individualiserende theorie kemudian berkembang dan yang termasuk di dalamnya ialah:
a.    Teori Pengaruh Terbesar atau “die meist Bedingung” atas nama BIRKMEYER. Sarjana ini menentukan sebagai sebab dari suatu akibat adalah peristiwa yang paling besar berpengaruh kepada timbulnya akibat itu. Diberikannya contoh, bahwa jika dua kuda menghela sebuah kereta, maka berjalannya kereta itu adalah disebabkan oleh tarikan dari salah seekor kuda yang terkuat diantaranya;
b.    Teori Yang Paling Menentukan; die doorslag geeft; de theorie van het “Gleichgewicht”; “Overwicht van positieve  over negatieve  voorwaarden” atas nama BINDING. Sarjana ini mengatakan, peristiwa yang harus dianggap sebagai sebab adalah peristiwa positif (yang menjurus kepada timbulnya akibat) yang lebih menentukan daripada peristiwa negarif (yang menahan supaya akibat tidak timbul);
c.    Teori Kepastian; “die Art des Werdens” atas nama KOHLER. Dikatakannya bahwa yang harus dianggap sebagai sebab ialah peristiwa yang pasti menimbulkan suatu akibat. Diutarakannya bahwa jika kita menanam bibit bunga dan kemudian berkembang, maka peristiwa – peristiwa/syarat – syarat untuk pertumbuhannya dapat disebut antara lain, hujan, sinar matahari, tanah dan sebagainya. Tetapi yang paling menentukan berkembangnya adalah bibit bunga tersebut. Teori ini lebih menonjol jika peristiwa – peristiwa/syarat – syarat itu hampir sama nilainya. Misalnya jika seseorang sangat peka terhadap keracunan tertentu, lalu dimakankan kepadanya sejumlah racun tertentu yang normaliter tidak mengakibatkan matinya orang, maka jika ia mati, “kepekaannya” itulah yang memastikan akan timbulnya akibat itu daripada racun itu.  

Tidak ada komentar: