Sabtu, 18 April 2015

TEORI KEHENDAK DAN TEORI PERKIRAAN



TEORI KEHENDAK DAN TEORI PERKIRAAN

Simons mengatakan bahwa dengan demikian, kesengajaan itu adalah merupakan kehendak (de will), ditujukan kepada perwujudan dari suatu tindakan yang dilarang atau diharuskan oleh undang – undang. Ajaran ini disebut sebagai Teori Kehendak (wilstheorie). Teori kehendak ini disangkal oleh para sarjana lainnya dengan mengemukakan alasan, bahwa seseorang hanya dapat mengharapkan suatu wujud perbuatan tertentu.  Untuk suatu akibat yang (akan) timbul dari perbuatan itu, tidak mungkin ia secara tepat menghendakinya. Paling banter ia bisa mengharapkan atau memperkirakannya.  Teori ini disebut sebagai Teori Perkiraan (voorstelingstheorie). 

Untuk memahami jalan pikiran ajaran Teori Kehendak dan Teori Perkiraan kita mencermati pendapat Simons yang mengatakan tindak pidana itu terdiri dari dua golongan unsur; yaitu unsur obyektif dan unsur subyektif.  Unsur obyektif adalah perbuatan/tindakan yang dilarang/diharuskan, akibat dan keadaan – keadaan atau masalah tertentu. Dan unsur subyektif adalah kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. Jika ditujukan kepada perbuatan, maka disebut sebagai kesengajaan formal, dan jika ditujukan kepada akibat yang timbul dari perbuatan tersebut, disebut sebagai kesengajaan material. Dalam hal kehendak itu dutujukan kepada perbuatan seperti halnya dalam delik – delik formal (misalnya perusakan barang pasal 406 KUHP), maka tidak ada perbedaan jalan pikiran dari kedua ajaran itu. Dalam contoh diatas, memang perbuatan merusak adalah merupakan kehendak dari pelaku. Lain halnya jika kehendak itu ditujukan kepada  akibat yang timbul, seperti halnya delik merampas jiwa orang, misalnya dengan mempergunakan senjata api. Matinya seseorang itu adalah sebagai akibat dari perbuatan menembak. Menurut ajaran yang kedua hanyalah dapat diharapkan atau diperkirakan oleh pelaku dan tidak mungkin sebagai kehendak yang sesungguhnya. Karena ada pula kemungkinan lain yaitu bahwa yang tertembak adalah justeru orang ketiga.    

Teori kehendak bilamana dibandingkan dengan teori perkiraan, akhirnya dalam kenyataan tidak jauh berbeda, walaupun tolak pangkalnya berbeda. Karena teori kehendak mengajarkan  bahwa apabila seseorang melakukan perbuatan, maka bukanlah hanya perbuatan itu saja yang dikehendaki, tetapi juga akibat dari perbuatan itu. Sebab bilamana memang ia tidak menghendaki akibat dari perbuatan itu, tentunya tidak akan melakukannya. Justeru akibat itulah yang dikehendakinya yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tersebut. Jelaslah pada akhirnya tidak terdapat perbedaan yang prinsipal antara “menghendaki akibat” dan  “memperkirakan akibat”. Kedua ajaran itu sama – sama menunjukkan hubungan yang erat sekali antara kejiwaan pelaku dengan akibat yang ditimbulkannya.  

Tidak ada komentar: