Senin, 04 Januari 2016

FATWA WARIS



FATWA WARIS

Dari segi terminus, Fatwa Waris berkonotasi dengan aspek dan faktor:

a.    IKHTILAF, terjadinya perbedaan pendapat mengenai suatu masalah hukum dalam kehidupan masyarakat di luar forum peradilan (out side the ordinary court);
b.    PELAKUNYA, dengan berwenang memberi fatwa boleh dilakukan oleh SEORANG ULAMA, MUFTI atau suatu LEMBAGA:

-       Bisa berbentuk lembaga formal dan non formal;

-       Bisa diminta atau tidak, baik oleh perorangan atau kelompok masyarakat;

c.    PROSESUAL, tidak ada bentuk tata cara formal, yang pokok pemberi fatwa mengeluarkan pendapat;
d.    PRODUK dan KUALITAS, ditinjau dari pendekatan USUL FIQIH:

-       Fatwa adalah NASEHAT atau PANDANGAN, yang tidak mengikat apabila hal itu diberikan oleh ulama atau lembaga yang bersifat formal;
-       Tetapi bisa merupakan NASEHAT atau PANDANGAN yang bercorak resmi atau OFFICIAL ADVICE ON RELIGIONS MATTERS, namun tidak mempunyai kekuatan mengikat formal yang memiliki daya sanksi atau daya paksa (compulsory);

Ditinjau dari segi fungsi dan kewenangan kekuasaan kehakiman sebagai pelaksana peradilan, agak janggal adanya produk Peradilan Agama yang lahir dari suatu proses yusticial disebut FATWA. Dari pengertian FIQIH dan LUGAH, Fatwa bukan berciri teknik peradilan yang bermakna PUTUSAN atau KETETAPAN. Sebab untuk itu ada istilah yang disebut MAQTU (MUNQOTI) atau QARARUN;


Tidak ada komentar: