Jumat, 01 Januari 2016

HARTA KEKAYAAN DIKAITKAN DENGAN ASAS PATRILINIAL



HARTA KEKAYAAN DIKAITKAN DENGAN ASAS PATRILINIAL


Salah satu sisi yang menempatkan wanita berkedudukan INFERIOR dari laki – laki, telah melahirkan sistem kekeluargaan PATRILINIAL GENERALOGIS . Kemampuan untuk melanjutkan keturunan hanya terbatas pada laki – laki. Peran seorang wanita, hanya sekedar menjadi IBU yang berfungsi menjadi WADAH BENIH (sperma) laki – laki sebagai tempat pembuahan anak untuk dilahirkan. Dan jerih payah wanita (ibu) memelihara pembuahan dan melahirkan anak, dianggap TIDAK MEMPUNYAI MAKNA yang berarti. Oleh karena itu, anak yang dilahirkannya, bukan miliknya, tetapi menjadi anak suaminya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ikatan kekerabatan keluarga suami (laki – laki) secara GENEALOGIS;  

Konsekwensi asas patrilinial, melahirkan SISTEM kewarisan yang ditegakkan diatas prinsip:
-       Anak laki – laki LEBIH UTAMA dari anak perempuan;
-       Harta warisan harus DIPERTAHANKAN KEUTUHANNYA ditangan anak laki – laki;
-       Harta warisan, tidak dibolehkan berpindah kepada keluarga lain atas alasan perkawinan;  

Pandangan hidup mengenai prinsip patrilinial, tidak saja dijumpai dalam dalam sejarah masyarakat YUNANI dan ROMAWI, tetapi juga mewarnai pandangan tradisi YAHUDI, yang melembagakan LEVIRATE. Anak laki – laki bukan sekedar mewarisi harta kekayaan orang tua. Bahkan meliputi hak untuk mewarisi janda saudara laki – laki, karena janda sebagai wanita:
-       Tergolong harta warisan dari saudara laki – laki;
-       Oleh karena itu, secara paksa janda dapat dikawini saudara laki – laki mendiang suami;
-       Sekiranya dia tidak ingin mengawini, berhak mengawinkannya kepada laki – laki diluar keluarga, dan untuk itu ia mendapat IMBALAN MAHAR dari laki – laki dimaksud;  

Sistem prinsip patrilinial terdapat di berbagai kawasan kelompok masyarakat Indonesia. Diantaranya masih dijumpai dalam masyarakat Batak, Bugis, Toraja, Bima dan Bali. Bahkan dalam masyarakat PARENTAL, sistem LEVIRATE merupakan salah satu aspek dalam adat kebiasaan;   

Tidak ada komentar: