Senin, 04 Januari 2016

KEKAYAAN BERHUBUNGAN ERAT DENGAN PEMUJAAN



KEKAYAAN BERHUBUNGAN ERAT DENGAN PEMUJAAN

Dalam kehidupan masyarakat lama, seperti yang berkembang pada masa keemasan YUNANI dan ROMAWI, timbul kepercayaan yang sangat kokoh: harta kekayaan yang diperoleh keluarga tidak mungkin diperoleh tanpa pemujaan arwah leluhur dewa – dewa. Atau sebaliknya, pemujaan tidak bisa dilakukan tanpa harta kekayaan;  

Pihak yang berhak dan berkewajiban melakukan pemujaan ialah kaum laki – laki. Yang boleh menjadi penguasa agama hanya laki – laki, yang dilanjutkan turun – temurun kepada anak laki – laki. Anak laki – laki adalah pelanjut agama dan pemujaan. Kalau begitu yang berhak mewarisi harta kekayaan adalah laki – laki, karena harta yang dimiliki keluarga adalah hasil yang tumbuh dari kegiatan pemujaan yang dilakukan laki – laki;

Pandangan hidup pemujaan arwah leluhur, tidak hanya dijumpai dalam masyarakat YUNANI dan ROMAWI. Sikap hidup yang demikian, terdapat juga dalam kitab – kitab WEDA agama HINDU maupun agama ZOROASTER. Jurubicara keagamaan serta ritus – ritus upacara agama keluarga, dipegang oleh KAKEK. Seterusnya dilanjutkan oleh anak laki – laki dari generasi ke generasi;  

Wanita, tidak memiliki hak, kewenangan dan kepentingan dalam urusan agama. Kepentingan keagamaan dan segala macam ritus upacara, cukup dilakukan AYAH, SAUDARA LAKI – LAKI atau SUAMI mereka. Pandangan seperti itu, barangkali masih melatarbelakangi kehidupan berbagai kelompok masyarakat Indonesia. Misalnya masyarakat BALI dan BATAK. Seperti yang dikemukakan oleh I.C. VERGOUWEN, hak waris adalah “hak menggantikan (suksesi) menurut keturunan langsung dalam alur laki (male line)”. Alasan filosofisnya, karena “laki – laki pelaksana wajar dari kesinambungan keturunan laki – laki galur bapak”. Selanjutnya dikatakan, “kehidupan dunia para leluhur yang sudah mati, dilanjutkan oleh anak laki – laki mereka. Keturunan laki – laki melakukan pemujaan dan mengurus arwah mereka dalam kerajaan semangat, dan pasang surut kemakmuran dan kemiskinan yang menimpa, ditentukan oleh pemujaan dan penghormatan turunan laki – laki terhadap leluhur laki – laki.  Maka dalam pandangan hidup keagamaan MAGIS yang seperti itu:
-       Semua harta kekayaan yang ditinggalkan leluhur harus tetap dan langsung dikuasai anak laki – laki;
-       Yang bethak dan berkedudukan sebagai ahli waris, hanya laki – laki;
-       Wanita (anak perempuan), bukan ahli waris, dan paling berhak mendapat PEMBERIAN berdasar kemurahan hati berbentuk PARMANOAN (kenang – kenangan) atau sebidang tanah yang disebut DAON SIHOL (penawar rindu);     
                      

Tidak ada komentar: