Senin, 04 Januari 2016

PEMBELAAN PAKSA YANG MELAMPAUI BATAS



PEMBELAAN PAKSA YANG MELAMPAUI BATAS

Tindak pidana (barang siapa yang melakukan tindak pidana) pembelaan paksa yang melampaui batas, yang merupakan akibat langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat, yang ditimbulkan oleh serangan (atau ancaman serangan) tersebut (pasal 49 ayat 2 KUHP). Untuk ini, syarat – syarat serangan seperti diutarakan diatas harus ada. Sedangkan syarat – syarat pembelaan diperluas, atau dengan perkataan lain kalaupun pembelaan itu terlampau, sepanjang keterlampauan itu merupakan akibat langsung dari kegoncangan jiwa yang hebat, yang ditimbulkan oleh serangan/ancaman serangan tersebut, masih termasuk keadaan yang meniadakan pidana bagi petindak/pelaku;  

Syarat – syarat pembelaan yang dilampaui adalah: syarat keterpaksaan, dengan demikian juga syarat yang diperkenankan;   

Ukuran keseimbangan (dari asas keseimbangan) menjadi berat sebelah. Artinya kerugian bagi penyerang akibat tindakan pembelaan akan lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang diderita oleh pembela akibat serangan itu. Berarti pula bahwa ukuran yang diperkenankan (dari asas subsidiaritas) menjadi longgar. Yaitu tidak secara ketat lagi terikat kepada tindakan pembelaan yang teringan yang cukup untuk menghentikan serangan atau ancaman serangan itu;

Perlampauan ini, hanyalah sebagai akibat dari kegoncangan jiwa yang hebat. Pembuat undang – undang semula menafsirkan kegoncangan jiwa yang hebat, sebagai perasaan takut, khawatir atau bingung (vrees, angst of radeloosheid). Tetapi kini amarah dan kemurkaan (toorn en drift) sudah termasuk dalam pengertian kegoncangan jiwa yang hebat;  

Jika dalam pembelaan terpaksa yang melampaui batas, perasaan takut merupakan unsur yang meniadakan pidana, maka dalam pasal 308 KUHP (seorang ibu yang meninggalkan bayinya dengan maksud untuk melepaskan diri dari bayi itu) perasaan takut seorang ibu itu hanyalah merupakan hal yang mengurangkan atau meringankan pidana;

Sehubungan dengan dasar – dasar peniadaan pidana karena peniadaan kesalahan atau peniadaan sifat melawan hukum, maka pembelaan terpaksa yang melampaui batas, termasuk dalam golongan peniadaan kesalahan. Jadi tindakan pembelaan itu adalah tetap bersifat melawan hukum dan tidak dibenarkan. Kesalahan dari petindak (pembela) yang ditiadakan. Bukankah perasaan takut, khawatir, bingung, amarah, atau kemurkaan itu yang menggoncangkan jiwa pembela, sehingga ia tidak normal lagi untuk menentukan kehendaknya. Dengan demikian unsur kehendak atau kesalahan dalam hal ini bukan lagi dikendalikan oleh jiwa yang normal, tetapi telah dikendalikan oleh amarah dan sebagainya, sehingga unsur tersebut harus dianggap “dibebankan” kepada amarah dan sebagainya.

                      

Tidak ada komentar: