Senin, 25 April 2016

TEORI HUKUM



APAKAH TEORI HUKUM ITU?


Teori hukum bukanlah filsafat hukum dan bukan pula ilmu hukum dogmatik atau dogmatik hukum. Hal ini tidak berarti bahwa teori hukum tidak filosofis atau tidak berorientasi pada ilmu hukum dogmatik: teori hukum ada diantaranya. Teori hukum dapat lebih mudah digambarkan sebagai teori – teori dengan pelbagai sifat mengenai objek, abstraksi, tingkatan refleksi, dan fungsinya (Klanderman, Mulder dan van der Velden, 1983: Rechtstheorie in Nederland dalam Recente rechtsontwikkelingen 1970 – 1980).

Menurut Finch “legal theory  involves  a study of the characteristic  features essential to law and common to legal systems. One of its chief objects is analysis of the basic elements of law which make it law and distinguish  it from other forms of rules and standards. It aims to distinguish  law from systems of order which cannot be (or are not normally) described  as legal systems, and from other social phenomena. It has not proved possible to reach a final and dogmatic answer to the question ‘What is law?” (1979:1);  

Teori hukum adalah cabang ilmu hukum yang mempelajari berbagai aspek teoritis maupun praktis dari hukum positif tertentu secara tersendiri dan dalam keseluruhannya secara interdisipliner, yang bertujuan memperoleh pengetahuan dan penjelasan yang lebih baik, lebih jelas, dan lebih mendasar mengenai hukum positif yang bersangkutan (Muchyar yahya, 1996).  

Friedmann berpendapat bahwa: All systematic thinking about legal theory is linked at one end with philosophy and, at the other end, with political theory (1970: 3).  

Teori hukum   adalah cabang ilmu hukum yang membahas atau menganalisis – tidak sekedar menjelaskan atau menjawab pertanyaan atau permasalahan – secara kritis ilmu hukum maupun hukum positif dengan menggunakan metode interdisipliner. Jadi, tidak hanya menggunakan metode sintesis saja. Dikatakan secara kritis karena pertanyaan – pertanyaan atau permasalahan teori hukum tidak cukup dijawab secara “otomatis” oleh hukum positif karena memerlukan argumentasi atau penalaran. Berbeda dengan dogmatik hukum yang jawaban pertanyaan atau permasalahannya sudah ada di dalam hukum positif.

Dogmatik hukum dengan teori hukum kedua – duanya memang bicara tentang hukum, tetapi keduanya tidak sama; dogmatik hukum bukanlah teori hukum dan teori hukum bukanlah dogmatik hukum.

Dogmatik hukum dan teori hukum kedua – duanya mempelajari hukum positif; peraturan – peraturan hukum dan yurisprudunsi. Dengan demikian, dogmatik hukum merupakan teori, teorinya hukum positif. Teori hukum sebaliknya, kecuali mempelajari hukum positif, objeknya juga dogmatik hukum. Dengan demikian, teori hukum merupakan teorinya dogmatik hukum. Sebagai teorinya teori, teori hukum disebut meta teori. Jadi, teori hukum ruang lingkupnya lebih luas daripada dogmatik hukum.

Dokmatik hukum sifatnya menjelaskan secara yuridis/konkret hukum positif. Dikatakan secara yuridis/konkret karena jawabannya hanya ada didalam hukum positif. Permasalahan – permasalahan atau pertanyaan – pertanyaan dogmatik hukum hanya dapat dijawab atau dijelaskan oleh dan didalam hukum positif. Pertanyaan “apa hak milik itu?” dijawab secara dogmatis dengan menunjuk pada Pasal 570 BW: Hak milik adalah hak untuk menikmati sesuatu benda dengan leluasa, dan untuk berbuat bebas terhadap benda itu dengan kedaulatan sepenuhnya, asal tidak bertentangan dengan undang – undang atau peraturan umum yang ditetapkan suatu kekuasaan yang berhak menetapkannya, dan tidak mengganggu hak – hak orang lain; kesemuanya itu dengan tak mengurangi kemungkinan akan pencabutan hak itu demi kepentingan umum berdasar atas ketentuan undang – undang dan dengan pembayaran ganti rugi.

Teori hukum sebaliknya menganalisis atau membahas secara teoritis/kritis, bukan dengan menunjuk pada hukum positif atau peraturan perundang – undangan, tetapi menjawab secara argumentatif  dengan penalaran secara teoritis serta kritis. Pertanyaan “apa hak itu?” tidak dijawab  dengan menunjuk  pada hukum positif karena tidak diatur dalam hukum positif, sehingga harus dijawab dengan penalaran secara teoritis dan kritis; Hak adalah hubungan hukum antara subjek hukum dengan objek hukum yang dilindungi oleh hukum, hubungan hukum yang wajib dihormati oleh setiap orang”. “Apakah perjanjian itu?” Pertanyaan ini memang sudah dijawab oleh Pasal 1313 BW, tetapi jawabannya tidak lengkap dan kurang memuaskan, sehingga teori hukum mencarikan jawabannya.  

Dengan menjelaskan, dogmatik hukum tidak bermaksud mencari kebenaran. Dogmatik hukum itu tidak mencari apakah isi suatu peraturan itu benar atau tidak. Yang dicari adalah keabsahan atau keberlakuan (das Geltung). Yang mana yang sah? Perjanjian itu sah tidak? Apa dasar hukumnya? Apakah UU No. 14 Tahun 1970 masih berlaku?. Teori hukum sebaliknya mencari atau menanyakan tentang kebenaran.

Tidak ada komentar: